Sabtu, 31 Mei 2014

Gak ada alasan

Pernah mencoba menolak ajakan teman bersenang-senang? Misalnya seperti ini:
A : "Ayo ikut makan2."
B : "Gak ah."
A : "Lho? Kenapa?"
B : "Gak ada alasan."

Atau seperti ini:
C : "Kamu ikut piknik gak?"
D : "Gak."
C : "Kenapa?"
D : "Gak ada alasan. Cuma gak pingin ikut."
C : "Kan sayang."

Mengherankan sekali. Kenapa di dunia ini menolak hal seperti itu butuh alasan? "Aku gak mau." "Kenapa?" "Gak ada alasan." "Kayak anak kecil aja.".
Nanti kalau tidak punya alasan, biasanya mereka pakai sistem pemaksaan. "Lha iya, kamu kan gak punya alasan. Ikut aja."
Ini siapa yang ngajarin sih? Apa meniru Belanda atau bagaimana?


Kalau orangnya tidak mau, ya sudah. Jangan dipaksa. Biarkan dia melakukan sesukanya sendiri. Mungkin alasannya pribadi, mungkin juga dia memang tidak punya alasan. Saya saja tidak pernah memaksa orang lain... walaupun saya juga tanya alasannya sih... tapi kan saya tidak memaksanya walaupun itu alasan sepele. (Rather than that, when did I ever invite a friend to hang out with me?)

Saya sendiri juga malas sebetulnya menolak ajakan bersenang-senang. Bukan karena saya sebenarnya mau ikut. Tapi ya itu tadi, saya harus memikirkan alasan yang kuat. Biasanya pembicaraan jadi bertele-tele dan saya jadi lebih bingung.

E : "Ayo ikut ke bioskop."
F : "Gak ah."
E : "Kenapa?"
F : "Gak ada alasan."
E : "Ya sudah."

Seandainya percakapan itu sesederhana itu. Tapi jelas itu tidak mungkin. Orang kan selalu melakukan hal yang lebih rumit (Which is why it is easy to predict them).

Jumat, 16 Mei 2014

Menulis sekali sehari

Beberapa hari yang lalu, eh bukan minggu, eh bukan bulan, eh bukan... AH! Pokoknya beberapa waktu yang lalu, saya diberitahu sama teman saya mengenai sebuah quote dari entah siapa.

Teman saya (T) : "Jika kamu seorang penulis, ilustrator, atau pelukis, kamu harus membuat setidaknya minimal satu karya per harinya."

Kebetulan saya juga hobi menulis dan saat itu sedang menulis cerita kriminal fiksi semacam Sherlock Holmes.

Saya (S) : "Kamu pikir aku bisa bikin satu cerita penuh dalam sehari?"
T            : "Memang biasanya sehari kamu bisa nulis berapa halaman?"
S            : "Kalau lagi benar-benar punya waktu sih bisa tiga. Tapi karena tugas dan sebagainya, biasanya cuma lima kalimat atau satu paragraf per harinya."
T            : "Ya gak pa-pa. Gak harus jadi satu cerita kok."

Setelah mendengar perkataan menyentuh itu, tentu saja saya tidak melakukannya. Dan cerita kriminal fiksi tersebut sampai sekarang pun sudah jadi (Mainly because I had so much free time back then). Walaupun, yah, tidak sebagus perkiraan apalagi harapan.

Tapi belakangan saya mulai menerapkan kata-kata itu. Habisnya, sebentar lagi harus mulai mengerjakan tugas akhir alias skripsi. Kalau gak rajin nanti jadi susah. Walaupun skripsi dan fiksi jauh beda, tapi keduanya kan sama-sama ditulis untuk akhirnya dibaca. Makanya saya mulai menerapkan kebiasaan tiap hari selalu menulis fiksi.

Untungnya saya berhasil membuat kebiasaan ini. Sayangnya, jika ada sesuatu yang lebih menarik perhatian saya (Misal: Game) atau tugas ber-deadline besok, kebiasaan itu hilang. Semoga saja besok waktu skripsi tidak seperti itu.