Jumat, 12 September 2014

Nyolong Pethek

Pernah dengar istilah di judul tidak? Belum pernah? Kalau belum, mari saya jelaskan. Jadi begini, nyolong pethek adalah istilah dalam Bahasa Jawa. Nyolong artinya mencuri, sedangkan pethek artinya terka atau tebak. Jadi Nyolong pethek bisa diterjemahkan mencuri tebak atau mencuri terka. Apa maksudnya mencuri terka?

Kalian pernah kan mencoba menebak bagaimana kelakuan orang dari penampilannya? Nah, pada kenyataannya, penampilan tidak selalu mencerminkan perilaku. Kalian mungkin mengira bahwa mahasiswa berpenampilan acak-acakan itu adalah orang bodoh. Namun begitu kalian melihat di Kartu Hasil Studi-nya dia mendapat IP empat, kalian langsung terkejut dan merasa bodoh sendiri.

Untuk lebih jelasnya, biar saya ceritakan pengalaman saya. Jadi, pagi itu saya sedang asyik berjalan dengan teman saya. Kebetulan teman saya itu mahasiswa paling pintar di jurusan tempat saya berkuliah. IP-nya saja hampir mencapai angka empat. Waktu itu, kami sedang berjalan ke suatu tempat (saya lupa kemana). Pada waktu kami mencari tempat itu, dia bertanya pada orang meminta petunjuk. Begitu selesai, dia menjelaskannya pada saya.
"Katanya ada di sebelah baratnya toko X."
"Oh."
"Tapi, sebelah barat itu mana ya?"
Saya langsung menghela napas panjang waktu itu. Mata saya melihat ke langit, lebih tepatnya ke arah matahari yang masih meninggi di sebelah Timur.

Ada cerita lain lagi. Kali ini dengan Ayah saya. Beliau adalah orang yang baik namun terkadang sering dimarahi oleh Ibu saya. Ini karena beliau suka mengucapkan kata-kata yang tidak berhubungan dengan cerita. Tentu saja, sang pencerita adalah Ibu saya. Dari gambaran ini saja, saya yakin kalian mengira bahwa Ayah saya orang yang tidak suka memperhatikan. Saya juga mengira seperti itu, tidak usah malu-malu.

Nah, pada suatu ketika, Ibu saya tidak dirumah selama lebih dari satu hari. Kebetulan juga saya ada di rumah sendirian bersama dengan Ayah saya. Kami berdua dalam keadaan lapar waktu itu. Beliau kemudian mulai pergi ke dapur entah melakukan apa. Awalnya, saya pikir beliau membuat mie instan. Tapi begitu aroma bumbu nasi goreng tercium, saya langsung pergi ke dapur dan menemukan ayah saya membuat bumbu nasi goreng.
"Bapak, bisa masak nasi goreng?" tanya saya tidak percaya.
"Jelas bisa."
Saya masih tidak percaya. Tapi akhirnya saya biarkan beliau memasak untuk saya. Begitu saya menikmati nasi gorengnya, ternyata enak. Saya langsung bertanya, "Bukannya orang yang kurang memperhatikan, jarang bisa memasak?"

Kira-kira seperti itu. Begitu tahu yang sebenarnya, kita merasa kecolongan. Makanya, disebut Nyolong Pethek. Orang yang kita tebak tersebut mencuri tebakan kita dan membuat kita merasa kecolongan. Istilah Nyolong pethek sendiri membuat pikiran saya tertuju pada seorang tokoh pewayangan bernama Semar. Kalian tahu Semar kan? Tokoh wayang jenaka yang jadi pemimpin punakawan. Lihat penampilannya ini:

Buruk rupa kan?
Meski berpenampilan seperti itu, dalam cerita wayang, Semar adalah Dewa. Dia jadi terlihat seperti itu karena keserakahannya sendiri. Kalau tidak salah karena lomba menelan gunung. Semar berhasil melakukannya tapi dia tidak berhasil memuntahkan gunung tersebut. Meskipun begitu, dia  adalah penasehat Pandawa yang terkenal itu. Kalau kalian pernah dengar cerita Arjuna yang bertapa di gunung sehingga membuat gunung tersebut tumbuh terlalu tinggi, kalian mungkin juga mendengar bahwa Semar adalah orang yang berhasil membujuk ksatria Pandawa paling tampan tersebut. Berpenampilan buruk, tapi bijaksana dan kuat. Bukankah tokoh ini sangat sesuai dengan istilah Nyolong Pethek?

Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati - Bahasa Daerah Harus Diminati.


4 komentar:

  1. cocok bgt, Mas! kita biasa menilai buku dari cover-nya, menilai org dari penampilannya dan menilai barang dari harganya. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas. Makanya kita harus lebih kenal dulu dengan orang lain sebelum menilai dia. Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  2. Jangan menilai orang sebelum mengenalnya terlebih dahulu...

    BalasHapus