Senin, 06 Juli 2015

Liar//Pembohong



Liar. I am a liar. In this kind of world, if one did not lie, one could not survive. He would suffer from the betrayal of other and broke himself. Harsh perhaps, but that’s reality.
Even for me to get to my current job, I had no choice but to lie. I told them I had lots of experience during my first job interview. I told them that they would regret it if they didn’t have me. Perhaps they couldn’t believe me, they tested me. I passed it with ease. All I needed was an appropriate knowledge to convince them. Just like that and I got the job.
I didn’t have a choice. Had I told them this was my first job interview, they would immediately shun me away. It happened to the interviewee before me. I had a chat with him before and found out that it was also his first job interview. Then, when he came inside, I heard the interviewers saying something like this: ‘We need experienced people. You don’t meet the requirement. Go away.’ And so, the interviewee before me left with his head hung.
Truthfully, I wanted to stop. Lying was like a rolling a snowball from the top of a snowy mountain. Once started, it only got bigger and bigger until it finally stops. But, no one knew when it would stop and whether it would stay intact or break into many smaller pieces. In the worst case scenario, the snowball would roll back somehow and hit its builder. I didn’t want that.
But, what could I do? Once started, I couldn’t stop it. Almost everything I have now was because of my lies. About the only thing I received with honest mean was this food in my hand. No matter how hungry I am, I wouldn’t resort to lie to get my food.
“Mother, I’m hungry.”
“Please bear with it.”
I was just about to eat that food when I heard a mother and daughter saying things like that. Judging from their tattered clothes, they must be homeless. Seeing them, I lost my appetite. I warped the food again and walked toward them.
“Here.” I offered it to the little girl, “Eat it.”
“But, sir.” She looked at me in the eye, “Aren’t you hungry, sir? You just bought this, didn’t you?”
“I have eaten recently.” I said, “Go ahead. Eat it.”
Hearing my insistence, the little girl took it shyly from my hand. Her mother then looked at me.
“Thank you very much, sir.” She said. Then she talked her daughter, “C’mon. Say your thanks too.”
“Thank you, sir.”
“You’re welcome, little girl.”
I smiled then walked away from them. My stomach rumbled, demanding me to fill it. But, matter-of-factly, I didn’t have money on me. It looked like I had to hold it in for sometimes. I exhaled my breath and thought to myself.
‘It looks like I can’t stop lying.’
 ---



Pembohong. Aku ini seorang pembohong. Di dunia semacam ini, jika seseorang tidak berbohong, dia tidak bisa hidup. Orang tersebut akan menderita karena pengkhianatan yang dia alami dan akhirnya menghancurkan dirinya sendiri. Kejam memang, tapi itulah kenyataannya.
Bahkan untuk mendapatkan pekerjaanku sekarang, aku tidak punya pilihan kecuali berbohong. Kukatakan pada mereka aku termasuk orang yang berpengalaman pada wawancara pertamaku seumur hidup. Aku beritahu mereka bahwa mereka akan menyesal jika aku tidak bekerja untuk mereka. Mungkin karena tidak percaya, mereka mengujiku. Aku berhasil lolos dengan mudah. Yang kubutuhkan cuma pengetahuan secukupnya dan mereka tertipu.
Aku tidak punya pilihan. Kalau kukatakan pada mereka bahwa itu adalah wawancara pertama seumur hidupku, aku pasti akan diusir. Hal itu sebenarnya terjadi pada orang yang diwawancari sebelum aku. Aku sempat mengobrol dengannya dan menyadari bahwa ini adalah usaha pertamanya mencari pekerjaan. Lalu, begitu dia masuk, aku mendengar pewawancara mengatakan hal seperti ini: ‘Kami butuh orang berpengalaman. Kamu tidak memenuhi syarat itu. Pergi sana.’ Dan orang yang diwawancarai sebelumku tersebut pergi sambil menundukkan kepala.
Sebenarnya, aku ingin berhenti. Berbohong sama seperti menggelindingkan bola dari atas gunung bersalju. Sekali dimulai, bola itu cuma membesar dan membesar hingga akhirnya berhenti. Tidak ada yang tahu kapan bola itu akan berhenti dan masih utuh atau hancur menjadi bagian-bagian kecil. Pada kemungkinan terburuk, bola itu mungkin akan berbalik menggelinding kearah pembuatnya dan mengenainya. Aku tidak mau itu.
Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah memulainya dan aku tidak bisa berhenti. Hampir semua yang aku miliki sekarang adalah berkat kebohonganku. Satu-satunya hal yang kudapatkan dengan cara jujur hanyalah nasi di tanganku ini. Seberapa lapar keadaanku sekarang, aku tidak akan berbohong untuk mendapatkan makanan.
“Ibu, aku lapar.”
“Tahan sebentar, nak.”
Percakapan itu terdengar sewaktu aku mau memakan nasi yang baru saja aku beli. Seorang ibu beserta anak perempuannya berada di dekatku. Dilihat dari pakaian mereka yang compang-camping, mereka pastilah gelandangan. Melihat mereka, aku kehilangan selera makanku. Kubungkus lagi nasi yang sudah kubuka dan kudekati mereka.
“Ini.” Kutawarkan nasi bungkus itu pada si gadis kecil, “Makanlah.”
“Tapi,” mata gadis itu menatapku, “apa bapak tidak lapar? Bapak baru beli nasi ini kan?”
“Aku sudah makan.” Jawabku, “Ayo. Makanlah.”
Gadis kecil itu menerimanya dengan malu-malu. Kemudian ibunya berbicara padaku.
“Terima kasih, Pak.” Katanya. Kemudian dia menyuruh anaknya, “Ayo. Kamu juga berterima kasih.”
“Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama, gadis kecil.”
Aku tersenyum lalu melangkah pergi. Perutku bersuara, memintaku untuk mengisinya. Tapi, aku sudah tidak punya uang lagi untuk membeli nasi. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menahannya sampai aku digaji. Aku menghela nafasku dan berpikir sendiri.
‘Kelihatannya aku tidak bisa berhenti berbohong.’
---

Kamis, 28 Mei 2015

Perbedaan Mystery dan Horror

Belakangan ini saya sering mampir ke sini. Saya dapat alamat ini dari mantan teman kos saya. Ceritanya banyak yang menarik sebetulnya, beberapa juga sulit dipahami dan terkadang ada yang tidak jelas. Ada banyak genre disana, mulai dari yang paling klise di Indonesia macam romance dan horror sampai yang paling jarang ditemukan macam fantasy dan mystery. Tapi, secara kesuluruhan merupakan situs yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang.

Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya kesal sewaktu membaca cerita disana. Salah satunya adalah pengelompokan cerita berdasarkan genre. Yang paling sering keliru di sana, dan mungkin seluruh dunia, adalah genre horror dan mystery. Keduanya berbeda, meskipun ada sedikit kesamaan.

Dalam cerita horor, jantung pembaca diharapkan berdebar cepat karena rasa takut. Tapi meninggalkan rasa penasaran yang mendalam sehingga pembaca ingin membacanya lagi meskipun ketakutan. Hal ini sebenarnya mudah dilakukan karena orang selalu tertarik akan hal yang negatif. Makanya, cukup dengan membuat orang takut saja, sebenarnya mereka sudah penasaran. Saya pernah membaca kalau salah satu pengarang cerita horor pernah berkata seperti ini: "Kalau saya tidak takut akan apa yang saya tulis sendiri, bagaimana saya bisa membuat takut pembaca saya?"

Beberapa hal yang sering muncul di cerita ini adalah hantu dan kawan-kawannya. Bisa juga memakai hal yang tidak masuk akal untuk membuat orang takut. Seperti boneka berwajah menyeramkan membawa pisau muncul di belakang orang misalnya. Makanya cerita horor ini ada unsur fantasinya sedikit. Tentu saja bukan fantasi yang "cerah" tapi "gelap", amat "gelap.

Berbeda dengan cerita bergenre misteri. Daripada disebut cerita, genre misteri lebih pantas disebut permainan. Permainan antara penulis dan pembaca. Penulis memberikan soal pada pembaca dimana pembaca diharapkan bisa menyelesaikannya. Soal yang diberikan berupan misteri tentu saja, bisa berupa pencurian, pembunuhan, atau apapun. Yang penting, itu merupakan sesuatu yang diselidiki oleh tokoh utama dan, secara tidak langsung, pembaca. Seringnya ada pelaku, tapi bisa juga tidak ada. Yang terpenting adalah menjawab pertanyaan "Bagaimana" dan "Kenapa". Disini ada aturan yang mengikat penulis yaitu harus menyebarkan semua petunjuk di cerita sebelum bagian akhir atau penyelesaian.

Genre misteri juga bisa berupa fantasi, tapi penulis tetap harus menyebarkan semua petunjuk. Contohnya, sebuah pembunuhan yang terjadi di sekolah sihir. Maka si penulis mau tidak mau harus memberitahu semua aturan sihir pada pembaca. Karena itu hal yang merepotkan, maka genre ini tidak pernah dicampur dengan genre fantasi.

Perbedaan yang paling mencolok adalah harus ada penyelesaian di genre misteri. Sedangkan di genre horor tidak harus. Tapi kalau mau membuat orang takut seperti di genre horor sewaktu membaca cerita misteri juga bisa, asalkan si penulis cukup kreatif.

Kamis, 07 Mei 2015

Annoying!

Menyebalkan... menyebalkan... menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan! So friggin' annoying!!

Saya frustasi belakangan ini! Banyak perkara yang bikin saya kesal bukan main! Baik tentang skripsi atau pun hobi saya menulis cerita. Semuanya terasa begitu menyebalkan!

Bayangkan saja, bagaimana rasanya jika ada adik tingkat yang juga skripsi denganmu? Mungkin biasa. Tapi bagaimana rasanya kalau adik tingkat ini berkata sesuatu yang cukup mengejek seperti: "Masa kalah sama aku?" Menyebalkan sekali kan? Nah, ini yang sedang saya alami.

Bukan apa-apa. Saya sendiri sebetulnya tidak masalah kalau disalip oleh adik tingkat. Tapi, oh for God's sake, know your place, you damned Junior! Kalau kamu tidak tahu kenapa saya belum bisa mengerjakan skripsi saya, then shut the hell up! Saya masih harus cari sekolah, buku referensi, dan juga lain sebagainya. Belum lagi skripsi saya tidak seperti kalian yang pakai Bahasa, I have to use English with correct grammar. Kalau kamu bisa buat satu skripsi pakai Bahasa Inggris dengan grammar yang tepat, saya mungkin bisa menahan rasa kesal saya. Atau mungkin yang lebih mudah saja, cerpen.

Saya yakin banyak dari kalian yang gagal. Saya sendiri saja tidak berhasil membuat cerpen dalam Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Saya pernah mencobanya dan saya minta orang luar untuk mereview. Kritikannya benar-benar brutal dan bisa menghilangkan kepercayaan diri. Tentu saja cerita saya dianggap buruk sekali grammarnya oleh mereka (But they admit that my story is interesting, which is nice). Padahal di kampus, saya cukup bisa mengikuti pelajaran Structure, semantic, pragmatic, dsb (Okay, maybe not all, but still). Ini juga yang membuat saya sempat kehilangan kepercayaan diri saya.

So, if you think you're better than me, then surpass me by making a good writing in English with a very correct grammar. By that, I mean without any redundancy, use correct tenses, and use wide arrays of vocabulary. And, if you really think you're so much better, go make a poem!