Kamis, 28 Mei 2015

Perbedaan Mystery dan Horror

Belakangan ini saya sering mampir ke sini. Saya dapat alamat ini dari mantan teman kos saya. Ceritanya banyak yang menarik sebetulnya, beberapa juga sulit dipahami dan terkadang ada yang tidak jelas. Ada banyak genre disana, mulai dari yang paling klise di Indonesia macam romance dan horror sampai yang paling jarang ditemukan macam fantasy dan mystery. Tapi, secara kesuluruhan merupakan situs yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang.

Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya kesal sewaktu membaca cerita disana. Salah satunya adalah pengelompokan cerita berdasarkan genre. Yang paling sering keliru di sana, dan mungkin seluruh dunia, adalah genre horror dan mystery. Keduanya berbeda, meskipun ada sedikit kesamaan.

Dalam cerita horor, jantung pembaca diharapkan berdebar cepat karena rasa takut. Tapi meninggalkan rasa penasaran yang mendalam sehingga pembaca ingin membacanya lagi meskipun ketakutan. Hal ini sebenarnya mudah dilakukan karena orang selalu tertarik akan hal yang negatif. Makanya, cukup dengan membuat orang takut saja, sebenarnya mereka sudah penasaran. Saya pernah membaca kalau salah satu pengarang cerita horor pernah berkata seperti ini: "Kalau saya tidak takut akan apa yang saya tulis sendiri, bagaimana saya bisa membuat takut pembaca saya?"

Beberapa hal yang sering muncul di cerita ini adalah hantu dan kawan-kawannya. Bisa juga memakai hal yang tidak masuk akal untuk membuat orang takut. Seperti boneka berwajah menyeramkan membawa pisau muncul di belakang orang misalnya. Makanya cerita horor ini ada unsur fantasinya sedikit. Tentu saja bukan fantasi yang "cerah" tapi "gelap", amat "gelap.

Berbeda dengan cerita bergenre misteri. Daripada disebut cerita, genre misteri lebih pantas disebut permainan. Permainan antara penulis dan pembaca. Penulis memberikan soal pada pembaca dimana pembaca diharapkan bisa menyelesaikannya. Soal yang diberikan berupan misteri tentu saja, bisa berupa pencurian, pembunuhan, atau apapun. Yang penting, itu merupakan sesuatu yang diselidiki oleh tokoh utama dan, secara tidak langsung, pembaca. Seringnya ada pelaku, tapi bisa juga tidak ada. Yang terpenting adalah menjawab pertanyaan "Bagaimana" dan "Kenapa". Disini ada aturan yang mengikat penulis yaitu harus menyebarkan semua petunjuk di cerita sebelum bagian akhir atau penyelesaian.

Genre misteri juga bisa berupa fantasi, tapi penulis tetap harus menyebarkan semua petunjuk. Contohnya, sebuah pembunuhan yang terjadi di sekolah sihir. Maka si penulis mau tidak mau harus memberitahu semua aturan sihir pada pembaca. Karena itu hal yang merepotkan, maka genre ini tidak pernah dicampur dengan genre fantasi.

Perbedaan yang paling mencolok adalah harus ada penyelesaian di genre misteri. Sedangkan di genre horor tidak harus. Tapi kalau mau membuat orang takut seperti di genre horor sewaktu membaca cerita misteri juga bisa, asalkan si penulis cukup kreatif.

Kamis, 07 Mei 2015

Annoying!

Menyebalkan... menyebalkan... menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan! So friggin' annoying!!

Saya frustasi belakangan ini! Banyak perkara yang bikin saya kesal bukan main! Baik tentang skripsi atau pun hobi saya menulis cerita. Semuanya terasa begitu menyebalkan!

Bayangkan saja, bagaimana rasanya jika ada adik tingkat yang juga skripsi denganmu? Mungkin biasa. Tapi bagaimana rasanya kalau adik tingkat ini berkata sesuatu yang cukup mengejek seperti: "Masa kalah sama aku?" Menyebalkan sekali kan? Nah, ini yang sedang saya alami.

Bukan apa-apa. Saya sendiri sebetulnya tidak masalah kalau disalip oleh adik tingkat. Tapi, oh for God's sake, know your place, you damned Junior! Kalau kamu tidak tahu kenapa saya belum bisa mengerjakan skripsi saya, then shut the hell up! Saya masih harus cari sekolah, buku referensi, dan juga lain sebagainya. Belum lagi skripsi saya tidak seperti kalian yang pakai Bahasa, I have to use English with correct grammar. Kalau kamu bisa buat satu skripsi pakai Bahasa Inggris dengan grammar yang tepat, saya mungkin bisa menahan rasa kesal saya. Atau mungkin yang lebih mudah saja, cerpen.

Saya yakin banyak dari kalian yang gagal. Saya sendiri saja tidak berhasil membuat cerpen dalam Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Saya pernah mencobanya dan saya minta orang luar untuk mereview. Kritikannya benar-benar brutal dan bisa menghilangkan kepercayaan diri. Tentu saja cerita saya dianggap buruk sekali grammarnya oleh mereka (But they admit that my story is interesting, which is nice). Padahal di kampus, saya cukup bisa mengikuti pelajaran Structure, semantic, pragmatic, dsb (Okay, maybe not all, but still). Ini juga yang membuat saya sempat kehilangan kepercayaan diri saya.

So, if you think you're better than me, then surpass me by making a good writing in English with a very correct grammar. By that, I mean without any redundancy, use correct tenses, and use wide arrays of vocabulary. And, if you really think you're so much better, go make a poem!